Kisah Sandi Wijaya, Juragan Jamur Yang Hanya Lulusan SMP

Zona Madina Dompet Dhuafa dan Mandiri Amal Insani Meresmikan Rumah Jamur Sebagai Pusat Budidaya dan Penjualan Jamur Tiram
August 6, 2018
Paskibra berbaju adat ala Zona Madina Dompet Dhuafa
August 20, 2018
BOGOR- “Saya cuma lulusan SMP mas, tapi alhamdulillah lewat jamur ini saya bisa berpenghasilan, nggak kalah sama pegawai-pegawai,” celetuk Sandy Wijaya dibarengi tawa.

Pada tahun 2010, Sandy Wijaya hanyalah seorang lulusan SMP yang bekerja serabutan bahkan bisa dikatakan hampir pengangguran. Beruntungnya Sandy, pada tahun yang sama Dompet Dhuafa melalui progam pemberdayaan ekonomi di kawasan Zona Madina menginisiasi pemberdayaan masyarakat melalui budidaya jamur. Sandy yang kala itu masih menganggur memutuskan untuk bergabung menjadi mitra petani jamur Dompet Dhuafa.

Sandy mengungkapkan perjuangannya mempopulerkan usaha budidaya jamur tidaklah mudah. Jamur dinilai tidak sepopuler sayuran lain, dan tidak semua orang suka makan jamur. Hal tersebut membuatnya kesulitan mengajak warga untuk bersama membudidayakan jamur bersamanya.

“Sulit mas, warga tidak percaya sama usaha jamur. Katanya juga susah buat peliharanya, keluar duit (modal) banyak dan banyak lagi alasannya, Mas,” terang Sandy ketika ditemui di launching Rumah Jamur Dompet Dhuafa di Zona Madina, Parung, Bogor.

Berbekal dukungan dan pembinaan dari tim Dompet Dhuafa, dan juga saran dari para mahasiswa pertanian IPB, Sandy terus berjuang mengembangkan jamur. Tahap demi tahap pembelajaran membuat statusnya beralih dari pengangguran menjadi petani jamur yang handal. Bahkan wawasanya mengenai dunia pertanian, khususnya pertanian jamur tidak kalah dengan para pakar, padahal Sandy hanyalah lulusan SMP.

“Alhamdulillah, saya banyak belajar dari teman-teman Pembina Dompet Dhuafa dan mahasiswa IPB,” jelas bapak dua anak ini.

Bertahun-tahun usahanya mengembangkan jamur, Sandy kini sudah semakin yakin dengan profesinya sebagai petani jamur. Usahanya pun berbuah manis, kini ia secara mandiri mengelola kebun jamurnya di rumah dengan jangkauan penjualan yang luas. Sandy sudah memasok jamur ke banyak kota di Indoensia, dengan produksi sekitar 80 kg/ hari, dengan omset sekitar 20 juta/ bulan. Bahkan jamur produksi Sandy sampai diminta untuk di ekspor ke luar negeri.

“Kemarin ada permintaan dari Rusia, tapi saya belum bisa kirim karena produksi belum begitu banyak juga untuk di ekspor,” tambah Sandy.

Sekarang Sandy sedang sibuk untuk kembali lagi mempopulerkan budidaya jamur di kalangan masyarakat luas. Dibangunnya Rumah Jamur di Zona Madina merupakan langkahnya untuk mempopulerkan jamur ke masyarakat.(Dompet Dhuafa/Zul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Donasi