


ZONA MADINA.COM – Di sela-sela pemaparan program-program Dompet Dhuafa, Zaini (tim wakaf) bertanya kepada para mahasiswa, “Adakah yang tahu Wakaf?”. Tampak hanya 3-5 mahasiswa yang mengacungkan tangan. Sontak, pertemuan tersebut mengundang tawa, tawa menahan malu atas ketidak-tahuan, dan tentulah wajar, mengingat mereka baru semester awal.
Ya, memang itulah faktanya. Jika mahasiswa ekonomi Syariah saja masih sedikit yang memahami wakaf, apalagi dengan masyarakat luas. Untuk itu, pemerintah dan lembaga nadzir perlu lebih memberikan perhatian khusus dalam mensosialisasikan sedekah jariah. Sebuah amalan yang pahalanya dan manfaatnya tiada putus-putus.
Berdasarkan data dari Badan Wakaf Indonesia (BWI) potensi asset wakaf per tahun mencapai Rp. 2.000 triliun dengan luas tanah wakaf mencapai 420.000 hektar. Sementara itu, potensi wakaf tunai bisa mencapai kisaran Rp. 188 triliun per tahun. Sayangnya, potensi tersebut belum terealisasi 50%.
Di dalam ruangan Aula Al-Insan, DD Pendidikan yang agak panas, 121 mahasiswa belajar tentang Wake Up Wakaf dan program-program Dompet Dhuafa. Mereka belajar bagaiamana wakaf dapat memberikan keuntungan pahala yang mengalir terus, sebagaimana kisah wakaf tanah Sahabat Umar bin Khattab, wakaf sumur Usman bin Affan, dan kisah wakaf dari penduduk asli Indonesia, Habib Bugak Al-Asyi dari Aceh.
Wakaf Habib Bugak di tanah Arab telah memberikan manfaat untuk jamaah haji asal Aceh. Sekitar 4-5 juta rupiah, mereka mendapatkan tambahan uang saku. Tambahan tersebut berasal dari Badan Pengelola Wakaf Baitul Asyi di Kota Makkah, Arab Saudi. Apa yang telah diwakafkan oleh Habib 200 tahun yang lalu, kini memberikan manfaat yang tak terhitung nilainya.
Berbicara wakaf, maka lokasi yang sedang dikunjungi oleh mahasiswa Universitas Pembangunan Negeri (UPN) Veteran Jakarta hari ini (30/9/19), juga merupakan asset wakaf. Tanah wakaf seluas 2.16 hektar di Kemang-Kab.Bogor ini disebut sebagai Kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa, yangmana di atasnya dibangun unit-unit pelayanan publik seperti RS Sehat Terpadu, Sekolah Smart Ekselensia, Sekolah Guru Indonesia, Masjid Al-Madinah, Daya Mart, Kampung Inggris, Kampung Silat, Kampung Panahan dan Kampung Wisata Djampang.
Sebagai sebuah Kawasan yang terintegrasi, Zona Madina wajib memberikan dampak seluas minimal radius 5 km, yaitu mencakup 4 kecamatan dan 17 desa. Di desa-desa tersebut, pembinaaan masyarakat dilakukan ke dalam 3 bidang pengembangan, yaitu: pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Hasilnya muncul sentra budidya ikan hias, sentra budidaya jamur tiram, sentra budidya tanaman hias, sentra peternakan domba kambing, sentra tahu iwul, sentra kerajinan golok,
sentra kebun sehat, sentra rumah kemasan, spot belajar Bahasa Inggris, spot belajar silat, pendampingan perpustakaan sekolah, edukasi TBC dan lain sebagainya.
Untuk itu, tidaklah afdhal jika mahasiswa Kampus Bela Negara hanya belajar teori tetapi tidak turun gunung. Rombongan pun melakukan kunjungan lanpangan ke sentra-sentra pemberdayaan zakat. Mahasiswa dibagi ke dalam 5 kelompok, ada yang kunjungan ke RS Sehat Terpadu, sentra budidaya ikan hias, sentra budidaya ternak, sentra kerajianan golok dan spot pembelajaran Kampung Inggris.
Mahasiswa semester 3 dan 5 pun akhirnya kembali saat beduk Asyar berkumandang. Setelah melaksanakan kewajiban di Masjid Al-Madinah, mereka pun melepas penat dengan berlatih olah raga panahan.
Satu demi satu mereka pun menarik busur dan melepaskan anak panah.
Sesi kunjungan hari ini pun terpaksa diakhiri, Dita selaku perwakilan dari mahasiswa menyerahkan wakaf tunai sebesar 3 juta rupiah ke Dompet Dhuafa. Dengan ekspresi senang, dia berkisah, “Hari ini bergitu luar biasa, kami semua belajar tentang program-program Dompet Dhuafa, beneran naik odong-odong, belajar tentang hewan ternak, belajar juga hukum syariah jual kotoran dan lain-lain.” (ahm)